Kamis, 11 Oktober 2012

Pelajar Sebagai Aset bangsa


Menyimak Dialog Interaktif, 27 Juni 2006 lalu, menyoroti beberapa faktor ketidakdisiplinan pelajar yang antara lain disebabkan faktor masyarakat yang permisif, yang segala sesuatu itu serba boleh. Kemudian faktor keluarga yang terlalu protektif terhadap anak-anaknya maupun kurang perhatian. Kemudian faktor penampilan guru di dalam kelas, metode pembelajarannya barangkali tidak mengenakkan, menjemukan, atau lingkungan sekolah yang kumuh, reot, atau tempatnya yang kurang nyaman, dan berbagai macam faktor yang menyangkut kondisi psikologis anak, keluarga, orangtua, guru, maupun lingkungan sekolah dimana siswa itu melakukan aktifitasnya sebagai pelajar.
”Di Malaisia soal, kedisiplinan pelajar itu menjadi persoalan yang sangat serius. Sehingga Perdana Menteri menunjuk 10 menteri untuk menangani permasalahan kedisiplinan. Jadi bukan permasalahan sederhana, karena ini menyangkut aset bangsa”, demikian Suryani, SH. MHum. dalam sambutannya mewakili Dewan Pendidikan Kota.
Dialog Interaktif yang dipandu oleh Welas Waluyo ini menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan yang diwakili oleh Mas Pujantoro, Kapolresta Pekalongan yang diwakili oleh Bapak Kusnan, bagian administrasi, Rektor Universitas Pekalongan; Prof. Dr. Husein Haekal, MA (guru besar FISE dan dosen Pasca Sarjana UNY), wakil dari kepala sekolah yang dibawakan oleh Bapak Yunus; Kepala Sekolah SMA Negeri 3, wakil dari pelajar; dibacakan oleh Mardiyanto (OSIS SMK Gatra Praja), dan psikolog; Raga Afandi, S.Psi. dengan pembukaan acara diawali sambutan dari Walikota Pekalongan dr. Basyir Ahmad.
Walikota mengedepankan keadilan kepada anak didik agar diberi ruang untuk bisa mengungkapkan permasalahan yang ada dalam pengambilan kebijakan kedisiplinan. Menurut Walikota, ketidakadilan ini bisa dicari solusinya dengan kerjasama baik antar orang, lembaga, dan instansi terkait guna kemajuan pendidikan di kota Pekalongan. Karena ”pendidikan sudah menjadi visi-misi kami nomor satu dalam pilkada. Saya akan all out. Kalau 30% apa yang saya sampaikan waktu pilkada adalah bicara masalah pendidikan. Tiga point yang ingin saya sampaikan: Pertama; pendidikan yang bermutu, kedua; pendidikan yang terjangkau, dan yang ketiga; pendidikan yang memperhatikan kesejahteraan guru”, demikian janji dr. Basyir dihadapan kepala sekolah SLTP dan SLTA se kota Pekalongan.
Lebih jauh Basyir dengan bahasa politisnya memberikan jargon bahwa dia tidak ingin menyusahkan orang miskin dan tidak ingin membebani orangtua murid dengan membuat kebijakan yang sangat populer yaitu dengan mempersiapkan buku-buku pelajaran dasar bagi seluruh siswa sekolah dasar (SD). ”Kita akan tambah 1,4 milyar lagi, dan tahun depan SLTP harus selesai”, tegas Basyir, yang mengakhiri sambutannya dengan membaca basmallah untuk membuka acara Dialog Interaktif; Mewujudkan Kedisiplinan Pelajar di Kota Pekalongan.
Pembicara awal dimulai oleh Mas Pujantoro yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan dengan membicarakan kedisiplinan ditinjau dari tingkat kelulusan yang meningkat, tetapi masih juga jauh dari harapan, untuk SLTA dari 60% pada tahun 2005 menjadi 80,2% di tahun 2006, sedangkan SLTP baru 77% ”berarti masih banyak persentase yang tidak lulus. Ini suatu hal yang memprihatinkan bagi kita semua, dan ini merupakan situasi atau kondisi yang kurang kondusif”, kata Mas Pujantoro. Solusi yang ditawarkan oleh pemerintah yaitu dengan mengadakan Menejemen Berbasis Sekolah. Dengan MBS yang diterapkan ini diharapkan mampu menjadi filter pengawasan dan tingkat partisipasi yang lebih kondusif. Juga dengan adanya metode PAKEM (Pembelajaran, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan), diharapkan bisa ikut menurunkan atau mengatasi situasi yang belum kondusif.
”Pemerintah juga sudah mempersiapkan regulasi kebijakan bagaimana untuk mendisiplinkan para pelajar. Tahun 2007 kami sudah membuat rancangan untuk membuat Perda tentang jam wajib belajar masyarakat”, demikian Mas Pujantoro menanggapi beberapa kasus pelajar yang bolos sekolah, kongko-kongko di mall pada jam-jam pelajaran berlangsung, dan kasus indisipliner lainnya.
Dari Kapolresta Pekalongan menyodorkan program Polisi Sahabat Anak dan Bhabinkamtibmas dalam mengatasi persoalan kedisiplinan pelajar. Sedangkan Yunus mengharapkan terjadinya partisipasi aktif dan interaksi antara siswa, guru, dan perangkat lainnya di sekolah dalam membuat kebijakan kedisiplinan. Dan, kesepakatan yang diambil, disebar luaskan ke orangtua murid dan instansi terkait, sehingga kontrol langsung dari masyarakat akan benar-benar terwujud. Untuk itu Yunus mengharapkan kepala sekolah atau guru dapat memberikan teladan perilaku disiplin.
Mardiyanto yang mewakili dari kalangan pelajar, justru kurang menyuarakan aspirasi kaumnya. Dia justru menyoroti adanya playstation, dugem, sarana penunjang lainnya seperti kendaraan justru menjadi biang keladinya. Pendekatan Mardiyanto lebih mengarah pada bagaimana anak dapat belajar agamanya dengan benar. Dia mensitir beberapa ayat Tuhan untuk dapat mengingatkan kepada sesama.
Rektor Unikal, Prof. Dr. Husein Haekal, MA lebih mentransendental dari pembicara-pembicara sebelumnya. Ia menceritakan pengalamannya ketika di Malaisia, Amerika, dan negara-negara lain yang pernah dikunjunginya. Banyak hal yang bisa diraih, jikahighting spirit dalam diri untuk maju selalu ditumbuhkan. Semangatnya adalah memberi serasa menerima, kehilangan serasa menadapat. Karena kita yakin bahwa ”famma yat taqillaha yaj ’allahu mahroja, wa yar zuqhum min khaitsu laa yah tasib” siapa yang bertaqwa kepada Allah akan diberi jalan keluar dan diberi rizki di luar perhitungan.
Husein juga mengingatkan bahwa NIP. Nirimo Ing Pandum adalah bentuk dari rasa syukur kita pada Yang Kuasa setelah melakukan kerja keras dan kerja cerdas, sehingga sesuatu yang dilakukan adalah ngurus bukan nguras uang rakyat.
Acara yang digagas oleh Dewan Pendidikan Kota Pekalongan ini memang sangat menarik untuk diikuti. Kadang terlihat beberapa silang pendapat yang langsung dibicarakan pada saat pembicaraan berlangsung. Adalah Raga Afandi yang melakukan aesbreaking, karena pembicaraan sepertinya one way discussion, dari semenjak sambutan DPK, sambutan Walikota, pembicara dari Dinas Pendidikan, Kapolresta, wakil dari kepala sekolah, wakil dari siswa, Rektor Unikal, dan yang terakhir dari psikolog memang memberikan nuansa berbeda dari pola-pola seminar atau diskusi panel lainnya.
Raga mencoba mengembalikan akar persoalan dari berbagai macam peraturan dan tata tertib telah dilakukan oleh sekolah, namun masih saja terjadi indisipliner pada pelajar. Bisa jadi salah pandang terhadap pelajar yang selalu dijadikan obyek dalam penerapan peraturan atau tata tertib di sekolah, karena anak didik tidak diajak bicara dalam menetapkan sebuah kebijakan untuk diri maupun lingkungannya.
Raga mengajak kepada para stakeholder pendidikan untuk bagaimana membuat iklim kreatif terlebih dahulu untuk membuat adrenalin (desiran-desiran darah yang dirasakan) siswa bisa terpompa dengan menciptakan adanya lomba-lomba kecerdasan atau ketrampilan lainnya, sehingga mereka reaching, ada sesuatu tujuan yang ingin dicapai sedemikian rupa, sehingga mereka menjadi disiplin melaksanakannya.
Untuk itu perlu ada rumusan bagaimana mewujudkan kedisiplinan pelajar di kota Pekalongan. Dalam Dialog Interaktif, Membangun Kedisiplinan Pelajar di Kota Pekalongan tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi antara lain:
  1. Perlunya kerjasama antar instansi terkait dalam hal ini; Sekolah sebagai institusi yang berhubungan langsung dengan anak didik, Satpol PP sebagai penegak Perda, Dinas Pendidikan sebagai pembuat regulasi, Polresta sebagai alat negara penegak hukum, dan Dewan Pendidikan Kota Pekalongan.
  2. Perlu diadakannya Peraturan Daerah tentang Pendidikan dan jam wajib belajar masyarakat dan perlu diadakan sosialisasinya.
  3. Diikutsertakannya siswa dalam membuat kebijakan tata tertib sekolah dan perihal kedisiplinan pelajar.
Kita tahu bahwa motivasi dan pembiasaan adalah kunci kedisiplinan, dan kedisiplinan adalah kunci keberhasilan. Karena disiplin adalah wujud dari sikap bertanggungjawab dengan selalu menumbuhkan sikap kreatif dan inovatif dari pelajar sebagai aset bangsa.
Atas inisiasi tadi telah dilaksanakan tertib belajar dengan mengadakan operasi pada jam-jam pelajaran oleh Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Polresta Pekalongan, dan Satpol PP sebagai penegak kedisiplinan yang mendapat perintah langsung dari Walikota Pekalongan dr. Basyir Ahmad, pada tanggal 12 Desember 2006 lalu menyisir keberadaan pelajar di mall-mall dan tempat-tempat hiburan lainnya. Tertangkap beberapa pelajar yang kedapatan mbolos sekolah, bahkan juga terdapat satu diantaranya pelajar dari Kabupaten Pemalang. Setelah diberi beberapa pengarahan, merekapun dilaporkan ke sekolah masing-masing untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu di luar sekolah, pada saat jam pelajaran berlangsung. (A. Nasir. Ata)

0 komentar:

Posting Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

SDN Panjang Wetan 01 Pekalongan. Diberdayakan oleh Blogger.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites